Penjelasan Hukum Menikahi Perempuan Hamil

Lazimnya seorang perempuan hamil sehabis menikah sehingga status anaknya sah dan jelas. Namun, sekitar ada yang menerima Musibah maka hamil di luar nikah, akhirnya tak pelik status istri dan calon bayinya dipertanyakan.Sedihnya, tak sedeng laki-laki yang menghamili lari dari tanggung jawab alias kabur. Walhasil ada laki laki lain yang berbaik hati dan rela menikahi wanita hamil karena berzina.

Kunjungi juga : agama adalah

Lalu apakah boleh menikahi wanita yang lagi hamil karena zina?Salah satu guru agama di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Ustadz Muhammad Sulaiman Nur Menuturkan menikahi wanita yang tinggal hamil hukumnya tidak sah di mata agama karena statusnya merupakan hamil di luar nikah.

“Hukum menikahi istri yang tengah hamil itu tidak sah. Sesuai dengan Omongan Allah SWT QS. At-Thalaq ayat 4,” kata ustadz yang akrab disapa Kang Sule

Dalam Surat At-Talaq Ayat 4 Allah SWT berfirman:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Wal-la`i ya`isna minal-mahiḍi min nisa`ikum inirtabtum fa ‘iddatuhunna salasatu asy-huriw wal-la`i lam yahidn, wa ulatul-ahmali ajaluhunna ay yada’na hamlahunn, wa may yattaqillaha yaj’al lahu min amrihi yusra.

Artinya: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid tinggal (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka merupakan tiga Bulan dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka memanifestasikan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa menjelang Allah, niscaya Allah mengarang baginya kemudahan dalam urusannya

Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa seseorang cewek boleh dinikahi jika dia pecah Menaruh Kendatipun belum rapi masa nifasnya, putri itu pecah sah untuk dinikahi.

Sementara itu dilansir dari laman Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah, ada lima pendapat menikah cewek yang berzina atau hamil di luar nikah. Yaitu di antaranya:

1. Mutlak tidak sah
Dikatakan pula oleh Ali, Aisyah, dan Bara’ ibn ‘Azib. Serta Masing-masing satu riwayat Debu Bakar, Umar, Ibnu Mas’ud, dan Hasan Bashri (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, al-Mughni Ibnu Qudamah 7/518, Tafsir al-Alusi 13/326). Pandangan ini didasarkan pada QS. An-Nur: 3, yakni,

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini meskipun wanita yang berzina, atau putri yang musyrik; dan wanita yang berzina tidak dikawini sedangkan oleh Cowok yang berzina atau Cowok musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

2. Mutlak sah
Kemudian asy-Syafi’ie dan madzhabnya (al-Hawi al-Kabir 9/497-498). Di kalangan Syafi’iyah berargumen pada ayat 24 QS. An-Nisa:

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ

“Dan dihalalkan bagi anda selain yang demikian.”

Ayat terselip turun tamat memisahkan perempuan-perempuan yang haram untuk dinikahi. Tidak hanya istri yang telah disebutkan absah atau sah dinikahi, tersimpul istri yang berzina. Dikuatkan dengan cakap Nabi Muhammad SAW:

This entry was posted in Paper. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *